Mengenali bahaya rokok elektrik perlu dilakukan sebelum rokok yang juga dikenal dengan sebutan vape ini menggerogoti kesehatan tubuh terutama organ paru-paru. Beberapa waktu terakhir gangguan paru-paru kerap dianggap penyakit misterius. Namun sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa penyakit tersebut salah satunya disebabkan oleh zat berbahaya pada rokok elektrik.

Seperti dilansir https://www.harapanrakyat.com/, saat ini penyakit paru-paru yang berhubungan dengan kebiasaan menghisap vape menyebar hampir di seluruh dunia, terutama di beberapa negara bagian Amerika Serikat. Pada akhir tahun 2018 lalu tercatat tak kurang dari 800 kasus gangguan paru-paru yang disebabkan oleh rokok elektrik. Yang lebih mencengangkan, sebagian besar dari kasus tersebut berujung kematian.

Menilik dari kebiasaan masyarakat yang cendurung ‘kecanduan’ vape, diprediksi kasus penyakit paru-paru akibat bahaya rokok elektrik ini akan terus bertambah. Bahkan besar kemungkinan juga akan mewabah di kawasan Asia, tak terkecuali Indonesia.

Gangguan Paru Yang Dikategorikan Sebagai VAPI

Menurut FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat, penyakit paru yang erat hubungannya dengan penggunaan rokok elektrik dikategorikan sebagai Vaping Associated Pulmunory Injury atau VAPI. Disebut masuk kategori VAPI jika penderita sudah terbiasa menghisap vape paling tidak dalam kurun waktu 3 bulan terakhir.

Meskipun saat ini cukup gencar dilakukan sosialisasi terkait bahaya rokok elektrik, namun para ahli masih melakukan berbagai penelitian mengenai bagian apa saja yang menyebabkan penyakit paru-paru pada rokok elektrik.

Bagaimana Gejala Jika Seseorang Dikategorikan Sebagai VAPI?

Tidak ada rokok yang tidak berbahaya, termasuk rokok elektrik yang konon diklaim sebagai cara aman mengganti rokok tembakau. Ini bisa dilihat dari beberapa gejala pada saat pengguna rokok elektrik dikategorikan sebagai VAPI.

Setidaknya ada 3 gejala yang muncul pada penderita yaitu: bermasalah dengan pernafasan sebesar 98 persen, bermasalah dengan pencernaan sebesar 81 persen, dan hampir 100 persen penderita paru akibat rokok elektrik mengalami gangguan kesadaran.

Selain gangguan kesadaran, penderita paru akibat terlalu sering menghisap vape mengalami beberapa gejala yang ditandai dengan sakit dada, sesak nafas, sakit kepala, demam, batuk, diare dan muntah. Bahkan untuk VAPI kategori parah bisa dikenali dengan rusaknya organ paru-paru. Kondisi ini bisa dibuktikan melalui sinar X-ray atau rontgen.

Memperburuk Kondisi Penderita Asma

Sering muncul pertanyaan, mengapa rokok elektrik lebih berbahaya dibanding rokok tembakau? Penjelasan secara singkat, beberapa cairan yang terdapat pada rokok elektrik beraroma berisiko mengubah kinerja saluran pernafasan. Dalam hal ini risikonya sama, baik itu cairan yang mengandung nikotin maupun non-nikotin.

Kendati demikian cairan rokok elektrik yang memperburuk kondisi penderita asma hanya pada beberapa cairan dengan aroma tertentu. Dengan kata lain tidak semua cairan vape tidak mempunyai konsekuensi yang sama terhadap kondisi kesehatan paru-paru.

Salah satu cairan (liquid) rasa black licorice disebut-sebut menyebabkan peradangan pada saluran pernafasan. Sementara untuk cairan dengan aroma cinnacide disinyalir memperparah risiko peradangan.

Jumlah Pengguna Melonjak Drastis

Sejak populer beberapa waktu terakhir, jumlah pengguna rokok elektrik melonjak drastis dari tahun ke tahun. Ironisnya, 9 persen pengguna vape aktif adalah kalangan usia remaja antara 18 tahun-24 tahun.

Adapun berdasarkan data statistic yang dihimpun Statista Global Consumer tahun 2019 ini, pengguna rokok elektrik terbesar dipegang oleh China yaitu 20 persen disusul kemudian Perancis dengan 14 persen. Amerika Serikat menduduki peringkat ketiga dengan 13 persen kemudian Inggris dan Italia masing-masing 13 persen dan 12 persen.

Fakta Seputar Rokok Elektrik

Terkait apakah risiko bahaya rokok elektrik lebih tinggi dari rokok tembakau hingga saat ini belum ada yang bisa memastikan. Namun dari berbagai penelitian oleh para ahli menyebutkan bahwa uap pada rokok elektrik mengandung logam.

Ini bisa dilihat dari perasa pada cairan yang digandrungi oleh pengguna, dimana faktanya perasa tersebut memang mengandung bahan kimia. Bahan kimia tentu saja erat kaitannya dengan gangguan kesehatan, tak terkecuali penyakit paru-paru yang mematikan.

Mengingat bahaya rokok elektrik yang cukup serius, saat ini vape mulai dibatasi peredarannya di sejumlah negara. Bahkan pemerintah Amerika Serikat secara terbuka menerbitkan aturan terkait pelarangan penjualan produk rokok elektrik. Pelarangan tersebut tentu saja untuk menecegah semakin tingginya pengguna rokok elektrik terutama remaja dan kalangan usia dibawah umur.